Post Page Advertisement [Top]

ArtikelHumasLayanan

KISAH INSPIRATIF SONDANG NAULI KEPALA TATA USAHA MA YAPIS AL-OESMANIYYAH: AKHIRNYA GELAR ITU MENEMPEL DI BELAKANG NAMAKU

 

Jakarta, 22 April 2026

Akhirnya gelar itu menempel di belakang namaku. Kalimat sederhana itu pertanda kesyukuran dan bukti bahwa perjuangan itu tidak akan mengkhianati hasil. Kesungguhan, ketekunan, kedisiplinan menghantarkan gadis mungil, Kepala Tata Usaha Madrasah Aliyah YAPIS Al-Oesmaniyyah, menuju akhir pembelajaran sarjana strata satu (S1), Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Indraprasta (UNINDRA) PGRI Jakarta. Sondang Nauli, S.Pd nama yang muncul di panggung wisuda, yang dilaksanakan di Sosono Utomo Kompleks Taman Mini Indonesia Indah (TMII), pada tanggal 21 April 2026.

Hari yang bertepatan dengan kelahiran Ibu Kartini, pejuang kaum wanita Indonesia, seolah menjadi hari yang paling ditunggu, sebagai prosesi penghargaan terakhir atas perjuangan menimba ilmu tingkat sarjana di kampus UNINDRA. Di tengah kesibukan sebagai punggawa utama yang menahkodai ketatausahaan MA YAPIS Al-Oesmaniyyah, gadis campuran Jawa Batak ini berhasil menyematkan gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd), dibelakang namanya, lengkapnya Sondang Nauli, S.Pd.

KIsah inpiratif ini sengaja ditulis sebagai pelajaran bagi pembaca. Bahwa kewajiban menuntut ilmu itu berlaku sepanjang hayat. Bagi Sondang Nauli, keterbatasan ekonomi tidak menjadikan halangan untuk tetap bermimpi menyandang gelar sarjana. Sempat bimbang karena persoalan ekonomi, akhirnya gadis pendiam ini, berniat untuk tetap menyelesaikan sekolah tingkat atasnya di Madrasah Aliyah YAPIS Al-Oesmaniyyah, walaupun sempat berpikir tempat ini tidak ideal. Perpindahan sekolah dari daerah Depok menuju Tanjung Priok, sedikit membuat Sondang remaja berpikir, apa iya sekolah ini tempat yang tepat buat dirinya.

Pikiran itu tidak sepenuhnya salah. Tahun 2008 MA YAPIS Al-Oesmaniyyah termasuk salah satu madrasah yang seharusnya sudah ditutup. Selain kondisi keuangan yang memprihatinkan, keadaan fisiknyapun sangat menyedihkan. Madrasah tempat Sondang, begitu panggilan kesukaannya, harus menumpang pembelajarannya di atas Masjid Al-Istiqomah PTDI, karena proses pembangunan gendung pendidikan sempat terkendala pembiayaan.

Bukan patah asa, justru kondisi ini membuat kedewasaan gadis yang energik ini tetap semangat. Bimbingan Bude Reni, sosok yang memperkenalkannya dengan MA YAPIS Al-Oesmaniyyah memberikan energi tersendiri, untuk tetap bertahan sampai mendapatkan selembar ijazah MA. 

Cerita inspiratif tidak berhenti di sini. Selepas mendapatkan ijazah MA, gadis yang suka menggambar desain baju ini langsung mencari aktifitas yang dapat menghasilkan pendapatan. Berbekal pengalaman  menjadi admin di Bimbingan Belajar pada saat  masih aktif menjadi siswa MA YAPIS Al-Oesmaniyyah, akhirnya lamarannya diterima sebagai Tim Marketing di perusahaan donat yang mempunyai beberapa cabang di daerah Jakarta.

Ceritapun terus mengalir, seperti kehidupan Sondang. Seiring berjalanya waktu, pekerjaan sebagai Tim Marketing di perusahaan donat ditinggalkannya karena berbagai alasan, salah satunya waktu yang tidak fleksibel untuk tetap membangun impiannya menjadi sarjana. Akhirnya dengan pertimbangan yang mendalam Sondang memutuskan untuk bergabung dengan Bimbingan Tes Alumni 70 (BTA 70) di daerah Harapan Indah Bekasi.

Keberuntungan belum berpihak dengannya. Tidak lama bekerja di BTA 70 Harapan Indah, Sondang harus berpindah di Bimbel Sigma Tanjung Priok, karena tempat kerja lamanya terpaksa tutup. Babak baru dimulai, sebagian pengajar Bimbel Sigma Tanjung Priok adalah Pengajar MA YAPIS Al-Oesmaniyyah. Setelah beberapa lama bekerja di Bimbel Sigma Tanjung Priok, suasana kekeluargaan yang cukup baik, memaksa Sondang menerima tawaran untuk menjadi staff Tata Usaha di MA YAPIS Al-Oesmaniyyah di pagi harinya, dengan tetap tidak meninggalkan pengabdiannya di Bimbel Sigma.

Berjalannya waktu dan perkembangan pelayanan di MA YAPIS Al-Oesmaniyyah, memaksa Sondang harus menerima amanah baru sebagai Kepala Tata Usaha. Bebagai tugas baru menjadi tanggung jawabnya. Selain Kepala Tata Usaha, tugas sebagai operator madrasah, proktor pelaksanaan berbagai ujian berbasis komputer, dan admin EMIS Madrasah sekaligus EMIS GTK. Kesibukan ini tidak memadamkan keinginannya untuk mewujudkan mimpinya, menyandang gelar sarjana.

Niat, tekad dan kesungguhan yang kuat, akhirnya memunculkan keberanian untuk mendaftar sebagai Mahasiswa UNINDRA. Prodi Bimbingan dan Konseling menjadi pilihannnya karena melihat bahwa di MA YAPIS Al-Oesmaniyyah belum memiliki guru BK yang sesuai dengan ijazahnya. Sondang mengambil kelas karyawan, sehingga perkuliahan dilaksanakan setiap hari Jum'at sore dan Sabtu. Kesibukannyapun bertambah, berbagai literasi, projek, jurnal dan pelatihan-pelatihan yang terkait dengan Bimbingan dan Konseling menjadi menu utama yang harus ia santap setiap hari.

Kini, perjuangan, pengorbanan dan pembuktian aktualisasi diri mencapai puncaknya. Puncak tingkat Sarjana Strata Satu (S1). Gelar sarjanapun sudah berhak disematkannya. Namum ini bukan akhir dari perjuangan. Pengabdian dan ketulusanmu tetap dinanti banyak orang. Selamat dan Sukses, semoga keberkahan tetap dan terus membersamaimu. (Humas MA YAPIS Al-Oesmaniyyah)

2 komentar:

  1. Barokallohu fiik..bu guru Sondang, Selamat dan sukses selalu menyertai bu guru🙏💕

    BalasHapus
  2. Sukses selalu ponakan ku yg cantik, lanjut k jenjang berikutnya, tetap semangat dlm perjuangan hidup tuk masa depan yg gemilang. Congratulations 🥰🥰🥰

    BalasHapus

Bottom Ad [Post Page]