Bagi seorang anak, sekolah bukan sekadar tempat menuntut ilmu. Sekolah adalah ruang kehidupan. Di sanalah anak menghabiskan sebagian besar waktunya belajar, berinteraksi, berselisih, berdamai, jatuh, lalu bangkit kembali. Karena itulah, sekolah sering disebut sebagai rumah kedua bagi anak tempat ia bertumbuh tidak hanya secara akademik, tetapi juga secara karakter dan kepribadian.
Begitupun Bagi Madrasah Aliyah YAPIS Al-Oesmaniyyah. Ungkapan sekolah adalah rumah kedua bagi para peserta ddik bukannya slogan belaka. Sekolah dipahami bukan hanya sebagai institusi pendidikan, melainkan sebagai lingkungan pembinaan. Anak datang bukan hanya membawa buku dan seragam, tetapi juga membawa latar belakang keluarga, emosi, kebiasaan, potensi, serta tantangan masing-masing. Maka tugas sekolah bukan sekadar “mengajar”, tetapi mendampingi proses tumbuh kembang anak secara utuh. Madrasah Pinggiran ini berusaha berbuat dan terus membersamai peserta didiknya untuk tumbuh berkembang. Tumbuh kembang menuju pendewasaan diri, menggapai citra diri yang didambakannya.
Menyadari input peserta didiknya sebagian besar berasal dari daerah yang kurang mendukung proses kedewasaan, Madrasah yang berada diantara hiruk pikuknya stasiun dan terminal Tanjung Priok memposisikan dirinya untuk menjadi rumah kedua, bahkan untuk beberapa peserta didiknya menjadi rumah utamanya.
Konsep ini terbukti pada acara wisuda siswa kelas XII tahun pelajaran 2025-2026. Bukti dari kolaborasi antara orang tua, peserta didik dan semua elemen madrasah menghantarkan lima belas (15) siswanya mendapatkan tiket di bangku kuliah berbagai PTN/PTKIN tanpa tes, atau sering dikenal dengan jalur prestasi.
Berbagai perguruan tinggi negeri dan keagamaan telah memotret potensi diri dari berbagai sisi. Dua siswa lolos di UNDIP Semarang, dua siswa Lolos di UNESSA Surabaya, dua orang lolos di UPI Bandung, satu orang lolos di UIN Jakarta, satu orang lolos di Politeknik Negeri Media Kreatif Jakarta, dua orang lolos di UIN Surakarta, satu orang lolos di UIN Semarang, empat orang lolos di UIN Cirebon dan satu orang lolos di UIN Banten.
Tidak hanya prestasi akademik, dalam keterbatasan daya dukung beberapa siswa berhasil menyelesaikan hafalan hingga 10 Juz. Di bidang olahraga, madrasah pinggiran ini juga berulang kali menghantarkan siswanya menjadi juara di berbagai pertandingan tingkat nasional bahkan hingga internasional, seperti Juara 1, Juara 2, Juara 3 Tanding Putra dan Putri di ajang Bandung Laupan Api Champion yang diadakan di GOR ITB Jatinangor.
Madrasah Aliyah YAPIS Al-Oesmaniyyah terus berbenah, baik secara fisik bangunan maupun secara psikologi membangun mental berjuang dan berjuang. Madrasah membuka diri untuk berbagai kalangan, karena akses pendidikan bermutu tidak menjadi monopoli masyarakat borjuis. Madrasah Aliyah YAPIS Al-Oesmaniyyah memberikan solusi bagi siapapun untuk membangun citra diri, menuju manusia yang bermartabat baik di dunia maupun di akhirat. (Humas MA YAPIS Al-Oesmaniyyah)








Tidak ada komentar:
Posting Komentar