Post Page Advertisement [Top]

ArtikelHumasKesiswaanosis

OSIS MADRASAH ALIYAH YAPIS AL-OESMANIYYAH MERIAHKAN HUT KE-81 RI DENGAN ACARA "PITULASAN"

Jakarta, 20 Agustus 2026

Agustus merupakan bulan penting dalam sejarah kehidupan bangsa Indonesia. Tepat pada 17 Agustus 1945 lalu, Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Karena itu, bulan Agustus seringkali dikenal dengan bulan kemerdekaan. Berbagai kegiatan pun ramai dilakukan oleh masyarakat dalam rangka memperingati dan menyemarakkannya.

OSIS Madrasah Aliyah YAPIS Al-Oesmaniyyah meriahkan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia dengan acara "Pitulasan". Kata Pitulas berasal dari bahasa Jawa, yang berarti tujuh belan. Kata Pitulasan dapat diartikan tujuh belasan yang dimaknai sebagai tradisi perlombaan masyarakat Indonesia  untuk memeringati  Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, setiap tanggal 17 Agustus.

Lomba pitulasan merupakan salah satu momen yang paling ditunggu-tunggu oleh masyarakat setiap tahunnya. Hal ini karena, ajang ini selalu mampu menghadirkan gelak tawa keceriaan, kegembiraan, dan keseruan di tengah masyarakat. Selain itu, melalui lomba pitulasan dinilai mampu memupuk kreativitas, kerjasama, kekompakan, dan jiwa nasionalisme antar warga.

Setidaknya ada tiga prinsip yang harus diperhatikan oleh panitia ‘Agustus-an’ dalam menyelenggarakan lomba pitulasan. Pertama, keamanan merupakan prinsip mutlak yang harus dipenuhi dalam penyelenggaraan setiap kegiatan termasuk lomba.. Kedua, kesopanan menjadi prinsip yang tidak kalah penting. Sebagai masyarakat yang beragama dan menjunjung tinggi norma ‘ketimuran’, selayaknya harus menjaga prinsip ini. Ketiga, sebuah kegiatan haruslah membawa pelakunya menuju kegembiraan. Karena itu, pilih aktivitas perlombaan dengan tingkat kesulitan yang sesuai dengan karakteristik peserta sehingga akan berjalan menggembirakan.

Namun, ironisnya tak jarang kita juga menemui bentuk perlombaan yang termasuk ke dalam kategori tidak senonoh. Misalnya, pertandingan sepakbola daster yang mana mengharuskan peserta laki-laki berdandan dengan mengenakan pakaian perempuan. Selain itu, banyak dijumpai lomba yang mengeksploitasi gerakan tubuh perempuan.

Fenomena tersebut menunjukkan gambaran degradasi moralitas anak bangsa yang semakin jauh dari norma agama dan norma kesopanan yang begitu dijunjung tinggi oleh masyarakat Indonesia. Di era media sosial saat ini, tak jarang ditemui Sebagian kelompok masyarakat utamanya anak muda yang rela melakukan apa saja untuk menjadi viral. Meskipun hal itu terkadang harus menepikan aspek moral. 

Oleh karenanya Pembina OSIS MA YAPIS Al-Oesmaniyyah,  Bapak Imam Faqih, S.Pd.I sangat selektif dalam penentuan lomba pitulasan. Hal ini bertujuan agar tidak melanggar prinsip-prinsip tersebut tanpa mengurangi esensi peringatan. Perlombaan yang membangun kesabaran, menumbuhkan kesungguhan, dari menampilkan sajian yang mendidik. (Humas MA YAPIS Al-Oesmaniyyah)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]